Berdamai dengan Diri Sendiri

        Konsep damai membawa konotasi yang positif, hampir tidak ada orang yang menentang perdamaian. Damai dapat berarti sebuah keadaan tenang, seperti yang umum di tempat-tempat yang terpencil, mengizinkan untuk tidur atau meditasi. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri. Satu arti dari damai menunjuk ke damai dalam diri di mana sebuah keadaan pikiran, badan, dan jiwa, yang dikatakan terjadi di dalam diri kita. Orang yang melakukan eksperimen dengan damai dalam diri mengatakan bahwa rasa ini tidak tergantung oleh waktu, orang, atau tempat, menekankan bahwa setiap individu dapat mengalami ketenangan dalam diri di dalam suatu peperangan.

            Konsep diri adalah pandangan dan sikap individu terhadap diri sendiri. Pandangan diri terkait dengan dimensi fisik, karakteristik individual, dan motivasi diri. Pandangan diri tidak hanya meliputi kekuatan-kekuatan individual, tetapi juga kelemahan bahkan juga kegagalan dirinya. Konsep diri merupakan inti dari kepribadian individu. Inti kepribadian berperan penting untuk menentukan dan mengarahkan perkembangan kepribadian serta perilaku positif individu.

            Dewasa ini, manusia terus dijejali dengan nilai-nilai yang baik kita sadari atau tidak, sudah membuat kita jauh dari rasa bersyukur dengan kodrat yang diberikan  Tuhan Yang Maha Esa kepada kita. Bagaimana tidak, setiap hari nilai-nilai itu dipertontonkan kepada khalayak manusia dalam bentuk iklan yang menampilkan figur-figur yang menurut mereka memiliki paras yang ‘sempurna’ yang malah membuat khalayak manusia menanamkan pola pikir yang konsumtif. Nilai-nilai ini membuat kita kurang dalam aspek kepercayaan diri, keyakinan akan diri sendiri, dan berdamai dengan ketidaksempurnaan. Nilai-nilai yang membuat kita buta akan potensi diri yang kita miliki, membuat sebagian dari kita tidak percaya bahwa setiap insan memiliki perannya masing-masing, membuat kita merubah diri menyerupai orang lain, dan lain sebagainya yang membuat kita menjadi insecure terhadap diri kita sendiri.

            Sering kita lihat atau kita alami sendiri bahwa kita tak jarang berlomba-lomba untuk menyerupai oaring lain. Kita berusaha merubah diri menjadi lebih cantik, lebih sempurna, dan tidak pernah puas akan penampilan yang kita miliki. Kita berusaha memiliki apa yang orang lain miliki, baik itu paras, barang mewah, atau bahkan sifat dan perilaku orang lain yang terkadang berada di luar batas kemampuan kita. Yang kita lebih perhatikan adalah kekurangan diri kita, bukan kelebihan kita dan apa yang sekarang kita miliki. Faktanya, inilah yang membuat kita tidak bisa mengenali identitas diri dan potensi diri. Kita bahkan sebagai manusia biasa mungkin pernah secara sengaja atau tidak sengaja menilai buruk orang lain, baik itu penampilan mereka, kekayaan mereka, kemampuan mereka, atau karya mereka. Secara tidak langsung yang kita hina adalah Sang Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 

            Menurut Mike Robbins dalam bukunya yang berjudul Be Yourself berulang kali menyatakan bahwa tiap manusia di dunia ini terlahir otentik. Tidak ada rupa maupun karakter dalam jiwa dan diri seseorang yang bisa diduplikat oleh orang lain sekalipun keduanya adalah kembar identik. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwasannya setiap dari diri kita memiliki kekurang dan kelebihan yang unik dan tidak dimiliki oleh orang lain. Maka, jangan karena tidak mau berbeda dengan orang lain, kemudian kita merasa tidak percaya diri dan tidak punya ‘nilai’ yang sama seperti orang lain. Padahal seperti yang disebutkan Mike Robbins tadi, menjadi berbeda dan unik adalah sebuah garis takdir yang sudah pasti dimiliki oleh manusia. Lalu sampai kapan manusia modern ini tidak menyadari bahwa setiap dari diri mereka sebenarnya memiliki orisinalitas yang seharusnya bisa dinggulkan?

            Banyak di antara kita yang tidak jarang mengatakan bahwa sesuatu yang buruk dalam hidup itu disebut sebagai nasib. Namun, segala kenyataan yang terjadi di dalam hidup kita juga merupakan akibat atau hasil dari apa yang telah kita perbuat. semakin positif pikiran dan perbuatan kita, makakian positif pula nasib hidup kita, begitupula sebaliknya. Jadi, jika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, maka kita tidak bisa menyalahkan takdir secara seihak. Idealnya, kita harus bertanya pada diri sendiri, kira-kira apa yang telah membuat hidup dan masalahnya terasa semakin berat dan menjemukan. Sebab besar kemungkinan, apa yang kita hadapi saat ini merupakan buah dari apa yang telah kita lakukan di masa lalu.

            Mulailah mengenali siapa dirimu sebenarnya. Gali dan temukan kekuatan dirimu yang mungkin selama ini sudah kau kubur dalam-dalam. Alihkan fokusmu yang mungkin sebelumnya terlalu meratapi kesedihan menuju kepada eksplorasi kemampuanmu. Beranilah mengambil keputusan atas pilihan hidupmu. Mulailah untuk tidak terlalu memedulikan apa kata orang lain yang terlalu sering mengintervensi kehidupanmu. Hidup ini kita sendiri yang menjalani.


 

Daftar Pustaka

Sayekti, Mutia.2018. Berdamai dengan Diri Sendiri. Yogyakarta : Psikologi Corner 

Komentar